Jumat, 19 Agustus 2011

Kisah Anak Muslim Pertama

Meskipun masih berdakwah diam-diam, banyak orang yang menyatakan ingin menikmati indahnya Islam. Islam memang indah kawan, bisa menyentuh hati yang paling dalam. Sungguh tiada benar bila Islam identik dengan kekerasan dan lain sebagainya (ma'af).
Islam selalu mengajarkan kebenaran, santun dan selalu menghormati manusia lain tak pandang agama yang dipeluk oleh orang tersebut.



Kisahnya.
Di antara sekian anak yang pertama masuk islam adalah Ali bin Abi Thalib dan Zaid.
Sungguh beruntung kedua anak itu. Mereka bisa tingal di rumah Nabi Muhammad SAW, seorang manusia yang selalu dipuji baik di langit maupun di bumi. Tak semua orang bisa seberuntung mereka.
Anak pertama yang masuk islam adalah Ali, kemudian diikuti oleh Zaid. Mereka menikmati kebahagiaan menjadi anak-anak muslim pertama, mempelajari islam, ajaran terbaik yang paling indah langsung bersama Rasulullah SAW.
Ali tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW meski hanya sebentar. Ali selalu mengikuti kemana saja Rasulullah SAW pergi, bahkan ke gunung dan ke padang pasir.
Mereka selalu shalat bersama, Ali terlihat begitu bahagia dengan apa yang dia lakukan bersama Rasulullah SAW.
Berita tentang perubahan sikap Ali semenjak dekat dengan Nabi Muhammad SAW terdengar ibunya. Ibu Ali mendengar jika putranya itu tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW, shalat bersama dan sebagainya.
Karena tidak tahu seperti apa ajaran islam, ibu Ali pun menjadi khawatir (hal yang lumrah bila seorang ibu khawatir karena belum mengetahui apakah diajari kebenaran atau sebaliknya).
Hingga suatu hari, ia berkata kepada suaminya, Abu Thalib,
"Berhati-hatilah! Anakmu kurasa sudah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Muhammad. Aku takut sesuatu yang membahayakan akan terjadi padanya," ujar Ibu Ali.
Abu Thalib memang tipe orang yang tidak suka menilai seseorang dari satu sisi saja, ia pun tak suka mendengarkan penjelasan dari satu pihak. Abu Thalib pun berusaha mencari kebenarannya dengan caranya sendiri.
Untuk itu, tanpa sepengetahuan istrinya, ia selalu pergi meninggalkan rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia pun mencari tahu dimana keponakan dan putranya itu berada.
Dukungan Orang Tua.
Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Rasulullah SAW dan anaknya, Abu Thalib pun kemudian pergi ke sana. Ternyata keponakan dan anaknya sedang shalat bersama di sebuah lembah di luar kota Makkah. Abu Thalib mengawasinya dari kejauhan, ia pun mengamati mereka beberapa lama.
Setelah Rasulullah SAW dan Ali selesai menjalankan shalat, Abu Thalib pun mendekati mereka.
Abu Thalib menyapa Nabi Muhammad SAW dan bertanya,
"Muhammad, ajaran apakah yang kau jalankan ini?"
Seperti biasa, Rasulullah SAW mengatakan dengan jujur tentang ajaran yang sedang Beliau anut,
"Paman, ini adalah ajaran yang paling indah, Islam namanya. Kau ada dalam daftar teratas orang yang akan aku ajak masuk Islam. Kau berhak memeluk Islam melebihi dari siapa pun. Berhentilah menyembah berhala dan berdoalah kepada Allah Yang Esa."
Abu Thalib paham betul dengan karakter dan watak keponakannya itu. Muhammad dari kecil terkenal jujur dan tak akan pernah berbohong. Abu Thalib diam sejenak, memikirkan apa yang diucapkan Rasulullah SAW.
"Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau aku, seorang pemuka di Makkah melakukan apa yang diminta keponakannya?" bisiknya dalam hati.
Karena khawatir pendapat orang-orang tentangnya, Abu Thalib berkata,
"Aku tidak bisa meninggalkan ajaran amaku. Tapi, kamu teruskan saja menjalankan ajaran barumu. Aku bersumpah, selama aku masih hidup, tidak akan ada orang yang bisa menyakitimu," kata Abu Thalib.
Kemudian ia berpaling kepada anaknya,
"Anakku, bagaimana pendapatmu?"
"Ayah..," kata Ali.
"Aku sudah beriman kepada Allah dan Rasul yang diutus-Nya. Aku sudah menjadi pengikut Muhammad SAW, aku pun sudah shalat bersamanya," kata Ali.
"Memang itulah yang tepat untuk kau lakukan, anakku," kata Abu Thalib.
"Ia akan mengajakmu kepada kebaikan. Lakukan semua yang dikatakannya kepadamu dan jangan pernah meninggalkannya," tambahnya.
Akhirnya Ali pun merasa lega mendengar perkataan ayahnya. Sekarang Ali benar-benar merasa tenang dan tanpa rasa takut lagi kalau diketahui oleh orang tauanya.
(Abu Thalib ini adalah paman dari Rasulullah SAW yang selalu setia melindungi dan mengayomi keponakannya hingga akhir hayatnya, namun sayang paman Nabi yang satu ini belum masuk Islam sampai meninggalnya, hingga turunlah sebuah ayat yang menyatakan hal itu terhadap Rasulullah dan paman Nabi. Mungkin lain kali akan dikisahkan).

Senin, 15 Agustus 2011

"Dahsyatnya Sedekah: Batu Ginjalpun Hilang"

Kisah ini dialami oleh tetangga saya. Karena sakit batu ginjal yang dideritanya semakin parah, terpaksa dia harus opname di rumah sakit. Dari hasil diagnosa, dokter memutuskan untuk menyembuhkan sakit tetangga saya itu, jalan satu-satunya adalah dengan cara operasi.
Kabar itu sungguh mengejutkan bagi tetangga saya ini. Jangankan dioperasi, pada jarum suntik saja dia takutnya setengah mati. Dia bersikukuh tidak mau operasi, dia bersikeras menggunakan obat-obatan saja untuk mengobati sakit batu ginjalnya, walau dokter sudah memberi keputusan harus operasi.
Ditengah kebingungan, istrinya mendapatkan buku “The Miracle of Sedekah” karya ustad Yusuf Mansur. Buku itu memang berisi ulasan yang sangat bagus akan kekuatan sedekah. Dari buku itulah sebuah titik terang didapatkan tetangga saya, sebuah kesimpulan bahwa sedekah bisa mengatasi 1001 masalah, masalah kesehatan salah satunya. Akhirnya dengan keyakinan yang tinggi bahwa sedekah bisa juga menyembuhkan penyakit, sang suami meminta istrinya mengambil sejumlah uang untuk disedekahkan dengan niat agar penyakitnya bisa sembuh tanpa operasi.
Setelah uang diambil, uang itu dibagi dalam beberapa amplop. Kemudian uang itu dibagikan pada pasien dan keluarga di kelas 3, yang notabene adalah kalangan tidak mampu. Selain itu, semua bingkisan yang dibawa oleh teman-teman kantor atau relasinya, semuanya disedekahkan pada para tukang becak yang mangkal di depan rumah sakit.
Tak terasa, sudah tujuh hari tetangga saya opname di rumah sakit. Pada hari ketujuh itulah pernyataan mengejutkan datang dari dokter yang biasa menangani sakitnya. Dokter itu bilang bahwa batu ginjal yang berada dalam tubuhnya sudah tidak ada lagi sehingga operasi tidak jadi dilakukan…Subhanallah.
Kisah ini disampaikan tetangga saya saat memberikan ceramah tarawih malam tadi. Kebetulan tema ceramah dia adalah kekuatan sedekah, maka dia sekaligus menceritakan kisahnya yang berhubungan dengan sedekah itu agar bisa diambil hikmahnya bagi kami semua.
Dalam sebuah hadist, saat malaikat menanyakan apa kekuatan yang bisa mengalahkan gunung, Allah menjawab besi. Saat ditanya lagi apa yang lebih kuat dari besi, Allah menjawab api. Saat ditanya lagi apa yang lebih kuat dari api, Allah menjawab air. Ditanya apa yang lebih kuat dari air, Allah menjawab angin. Saat ditanya apa yang lebih kuat dari segala yang diciptakan tersebut Allah menjawab; SEDEKAH yang dilakukan tangan kanan tanpa diketahui oleh tangan kiri (maksudnya sedekah tanpa disertai pamer pada sesama manusia).
So…di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, yuk kita berlomba-lomba sedekah. Karena kekuatan sedekah sungguh luar biasa dan bisa untuk mengatasi 1001 masalah. Semoga artikel saya ini bermanfaat, sukses untuk anda…..

Tidak Sabar Berbuka Puasa

Suatu hari pada bulan ramadhan seorang anak tidak sabar menunggu adzan maghrib dan mengeluh pada bapaknya. "Bapak, maghribnya jam berapa sich?" "Jam 6, sabar dong" Jawab bapaknya dengan santai. "Kok dari tadi masih jam 3 terus" "Emang knp?" "Kan pengen cepet buka puasa pak..., apa kita putar aja jamnya biar jam 6?" "Ya udah..." "Asyikkk..." Kata anak itu dan segera memutar jarum jam sampe ke angka 6. "Pak...udah jam 6 tuh, buka puasa yok..." "Lho... itukan baru jam di kamar. Di ruang tamu, di ruang tengah, di kamar bapak, dan di dapur belum." "Oh...gitu ya pak, harus jam 6 semuanya?" Respon anak itu manggut-manggut, lalu berlari dan memutar semua jam di rumahnya. "Bapak udah semua..." Teriaknya girang. "Jam tetangga-tetangga dan masjid udah?" "Lho...kok sampe jam tetangga dan masjid juga??" "Ya iyalah....kan harus jam 6 semuanya, baru bisa buka puasa" "Ya....capek dhe, mending nunggu aja, ketimbang mesti capek-capek muter jarum jam sedesa."